Translator

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Jumat, 24 Februari 2012

Resensi Film - Green Street Hooligans



Aku nonton film ini sudah lama sih. Tapi, karena kemarin baru ditayangin lagi di Global TV bolehlah kalau ditulis di sini resensinya.

Film ini menceritakan tentang seorang remaja Amerika, Matt Buckner, yang di-DO dari kampusnya, Harvard, karena dituduh menggunakan kokain. Padahal kokain itu milik teman sekamarnya, Jeremy Van Holden, yang merupakan anak dari keluarga terpandang.

Akhirnya Matt pindah ke Inggris bersama kakak perempuannya, Shannon, yang sudah berkeluarga di sana. Matt bertemu dengan Steve Dunham, suami kakaknya, dan adik Steve, Pete Dunham. Pete adalah pimpinan firm sepak bola West Ham United dan seorang pengajar olahraga. Kebetulan hari itu ada pertandingan antara West Ham United melawan Birmingham City. Steve menyuruh Pete untuk mengajak Matt menonton di lapangan. Pete, yang awalnya enggan mengajak Matt karena dianggapnya orang asing, akhirnya mau juga. Setelah memukul Matt, Pete mengajaknya ke bar kecil di Abbey untuk bertemu anggota GSE (julukan firm yang dikomandani Pete) yang lain.

Setelah bertemu anggota firm, rata-rata semua bersikap ramah pada Matt, kecuali Bower, tangan kanan Pete. Setelah beberapa saat, mereka pergi ke Upton Park untuk menonton pertandingan. Setelah pertandingan usai, Pete, Bower, dan anggota lain sepakat untuk menantang beberapa fans Birmingham. Tetapi, Matt tidak mau ikut dan memutuskan pulang ke rumah dengan kereta.

Di perjalanan pulang, Matt dihadang oleh tiga fans Birmingham yang akan mengeroyoknya. Tiba-tiba anggota GSE yang lain datang dan menyelamatkannya. Mereka berkelahi dan ini adalah perkelahian pertama bagi Matt. Matt bertindak cukup baik dan akhirnya dia dilantik menjadi anggota baru GSE. Matt pindah bersama Pete.

Hari-hari dilalui Matt bersama GSE. Karena keakraban Matt dengan anggota lain, Bower menjadi iri hati kepada Matt. Apalagi setelah diketahuinya bahwa Matt adalah seorang jurnalis. Bower memberi tahu tentang Matt yang seorang jurnalis pada Pete. Pete sangat marah pada Matt.

Steve, kakak Pete, segera memberi peringatan pada Matt yang sedang berada di Abbey. Ternyata, di sana Steve disambut oleh anggota GSE yang lain karena Steve lah sebenarnya “The Major” julukan untuk pendiri GSE ini. Steve dulunya sangat keras dan menyukai perkelahian, hingga saat adanya perkelahian GSE dengan firm Millwall yang dipimpin Tommy Hatcher. Tommy membawa serta anaknya yang berumur 12 tahun dalam perkelahian. Anak itu kemudian terbunuh oleh salah satu anggota GSE. Sejak saat itu Steve meninggalkan firm GSE dan dendam membara muncul di antara kedua firm tersebut.

Pete dan Bower sampai di Abbey dan berdebat dengan Matt. Kemudian Bower keluar karena merasa dirinya sudah tidak dianggap lagi di sana. Bower lalu pergi ke markas Millwall dan bertemu dengan Tommy. Dia lalu berkata pada Tommy bahwa GSE ada di Abbey bersama Steve “The Major”.

Pete yang marah karena merasa dibohongi Matt, memaksa Matt mengaku tentang siapa dirinya. Karena dia membenci jurnalis. Di lain sisi, firm Millwall berhasil mengepung Abbey dan merusak tempat itu. Steve yang ada di situ menjadi sasaran Tommy yang tidak terima akan kematian anaknya. Steve terluka terkena sabetan pisau. Bower yang menyesal segera melarikan Steve yang terluka parah itu.

Di rumah sakit, Pete mendamprat Bower. Shannon merasa bahwa Steve melanggar janjinya, bahwa dia masih menjadi anggota hooligan. Dia memutuskan kembali ke Amerika besok dengan mengajak anaknya dan juga Matt.

Esok harinya, pertandingan Millwall dan West Ham United digelar. GSE dan firm Millwall bertemu di dekat stadion. Pertumpahan darah terjadi. Matt, Pete dan Bower berjuang bersama anggota GSE melawan Tommy cs. Tak disangka, Shannon lalu datang dengan mobil. Tommy segera mengincar anak Steve yang ada di mobil Shannon. Pete yang tahu hal itu segera menyuruh Bower dan Matt untuk melindungi istri dan anak kakaknya tersebut. Shannon dan Matt segera masuk ke mobil.

Akhirnya, sasaran Tommy beralih ke Pete yang mengejek sikapnya yang salah, dan karena dia sendiri anaknya tewas. Tommy yang tidak terima, menyerang Pete bertubi-tubi. Hingga Pete tewas. Bower, yang tidak terima, menangisi kepergian Pete.

Matt sudah kembali ke Amerika. Dia menemui kembali Jeremy Van Holden di sebuah toilet restauran. Di sana mereka terlibat adu mulut. Jeremy dengan sombongnya berkata bahwa kokain itu memang benar milik dia. Matt lalu mengeluarkan perekam suara miliknya dan memutarnya kembali di hadapan Jeremy. Jeremy yang panik mencoba merebut kaset itu. Namun, Matt yang sudah jago berkelahi, segera memberikan Jeremy sebuah pukulan keras.
Film berakhir saat Matt menyanyikan sebuah lagu di perjalanan pulang. "I'm Forever Blowing Bubbles." Lagu yang sering dinyanyikan oleh anggota GSE.

Well, film ini menurutku keren. Apalagi pemainnya ganteng-ganteng (Elijah Wood!) dan keren banget. Ceritanya juga bikin aku nangis (pas kematian Pete). Juga bikin tersenyum puas (saat Matt memukul Jeremy).

Btw, maniak bola yang mengagungkan tim kesayangan masing-masing juga ada di Indonesia lho. Tapi nggak separah di Inggris sih. Contohnya Arema, Bonek, The Jack, Bobotoh, dll.

sumber:
http://www.moviesonline.ca/movienews_5048.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Green_Street

http://movies.radiofree.com/photos.cgi?id=630

http://movies.yahoo.com/person/charlie-hunnam/photos/

Minggu, 12 Februari 2012

Menyambut Janji – Letto

Letto ngeluarin lagu baru lho, ini lagunya jadi OST. nya sinetron Aliya.
Seperti halnya lagu Letto yang lain, lagu ini sarat makna dan dalem banget liriknya. Lagunya juga lembut dan keren banget deh pokoknya.
So, ini nih liriknya..

"Ku menanti sang kekasih

dalam sunyi ku bersuara lirih

Yang berganti hanya buih

yang sejati tak akan berdalih

Lembaran putih telah terpilih dan demi cinta

Kutepiskan semua keraguan jiwa dan kuganti dengan kepastian

Hatiku ini yang mulai mengerti dan berani ‘tuk menyambut janji

Kisah cinta yang abadi

Tak kan ada jika tak kau cari

Sering juga hanya mimpi

Yang membuatku bertahan di sini

Lingkaran putih telah terpilih dan demi cinta

Kutepiskan semua keraguan jiwa dan kuganti dengan kepastian

Hatiku ini yang mulai mengerti dan berani ‘tuk menyambut janji"